PENGIKUT-PENGIKUT PERTAMA RASULULLAH saw

Waraqa bin Naufal, seorang beragama Kristen yang seorang keponakan Khadijah, jelas mengingatkan kepada kabar gaib dalam Kitab Ulangan 18:18. Ketika kabar itu sampai kepada Zaid, budak Rasulullah saw. yang telah dimerdekakan (ia pada saat itu berusia tiga puluh tahun) dan kepada adik sepupu beliau, Ali, yang berusia kira-kira sebelas tahun, maka kedua-duanya segera menyatakan keimanan mereka kepada beliau. Abu Bakar, sahabat karib dari masa kecil pada saat itu sedang berada di luar kota. Ketika beliau pulang, mulai mendengar pengalaman baru Rasulullah saw. itu.

SAAT MUHAMMAD RASULULLAH saw MENERIMA WAHYU PERTAMANYA

Ketika usia Muhammad, Rasulullah saw. telah lebih dari tiga puluh tahun, cintanya kepada Tuhan dan ibadah kepada Dia mulai kian menguasai beliau. Muak akan kedurhakaan-kedurhakaan, kejahatan-kejahatan, dan pelbagai dosa kaum Makkah, beliau memilih suatu tempat, dua atau tiga mil jauhnya, untuk bertafakur. Tempat itu di puncak sebuah bukit, semacam gua yang terbentuk dari batu. Istrinya, Khadijah, biasa menyediakan perbekalan untuk beberapa hari, dan dengan membawa perbekalan itu beliau mengasingkan diri di gua Hira. Dalam gua itu beliau melihat kasyaf (penglihatan gaib). Kejadian itu terjadi dalam gua itu. Beliau melihat suatu wujud yang memerintahkan kepada beliau membaca. Rasulullah saw. menjawab, tidak mengetahui apa yang harus dibaca dan bagaimana harus membacanya.

ARTI PERADABAN DAN KEBUDAYAAN

Untuk menjawab soal ini kita harus ingat bahwa, jika kita meninjau kembali peradaban dan kebudayaan berbagai-bagai negeri, kita mengetahui bahwa negeri-negeri telah melalui zaman demi zaman yang berbeda. Beberapa zaman dari zaman-zaman ini sudah meningkat begitu maju sehingga antara zaman itu dan zaman kita tampaknya sedikit atau tak ada bedanya. Kalau kita kesampingkan kemajuan mekanik dunia modern, maka kemajuan dari sebagian zaman-zaman yang lampau dari sejarah manusia tampak sedikit sekali bedanya dari kemajuan masa kita. Baik dalam peradaban atau pun dalam kebudayaan, persamaan semacam itu ada. Tetapi, jika kita selami agak dalam, akan kita jumpai dua perbedaan penting antara masa lampau dan zaman modern ini.

ISA BUKAN GURU JAGAT

Isa a.s. berkata,

“Janganlah kamu sangkakan aku datang untuk merombak hukum Torat atau kitab nabi-nabi; bukannya aku datang hendak merombak, melainkan hendak menggenapkan. Karena sesungguhnya aku berkata kepadamu sehingga langit dan bumi lenyap, satu noktah atau satu titik pun sekali-kali tiada akan lenyap dari pada hukum Torat itu, sampai semuanya telah jadi” (Matius 5:17-18).

ISLAM MENGAJARKAN TAUHID ILAHI DAN PERI KEMANUSIAAN

Tetapi, ketika ummat manusia mulai maju, dan lebih banyak negeri mulai makin banyak dihuni, dan jarak di antara negeri-negeri mulai diciutkan dan sarana perhubungan mulai bertambah baik, pikiran mulai merasakan keperluan adanya suatu ajaran yang universal dan melingkupi semua macam keadaan manusia. Berkat hubungan timbal-balik manusia dapat mendalami kesatuan asasi ummat manusia dan ke-Esa-an Khaliq dan Rabb mereka. Ketika itu di gurun sahara tanah Arabia, Tuhan menurunkan ajaran-Nya yang terakhir kepada ummat manusia dengan perantaraan nabi Muhammad saw. maka tak mengherankan kalau ajaran ini mulai dengan memuji Allah, Tuhan seru sekalian alam.