Keburukan menyekutukan Tuhan

Dengan menyesal aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keburukan daripada bertumpu kepada sosok lain selain Allah s.w.t. Orang-orang seperti ini menyembah dan merendahkan dirinya kepada sosok lain yang telah menyalakan api kecemburuan Allah yang Maha Agung. Adalah doa orang-orang seperti itu yang ditepiskan oleh Tuhan.
Aku akan memberikan contoh sederhana yang walaupun tidak sepenuhnya benar tetapi mudah dicernanya. Seorang laki-laki terhormat tidak akan bisa mentoleransi perhatian orang lain terhadap istrinya, bahkan ia bisa menganggap istrinya pantas dibunuh sebagaimana banyak contoh dalam masyarakat. Begitu jugalah kecemburuan Ilahi. Ibadah dan doa adalah hak Wujud-Nya sendiri. Dia tidak akan bisa menerima ada sosok lain yang disembah atau dipohon dalam doa. Karena itu ingatlah bahwa kecondongan kepada sosok lain selain Allah s.w.t. sama saja dengan mengaliskan dirinya dari Dia.
Salat dan Ketauhidan, dimana salat merupakan praktek daripada pernyataan akan Ketauhidan Ilahi, tetapi ini pun akan kosong dari berkat dan merupakan hal yang sia-sia jika tidak dilambari perendahan diri serta tidak dilaksanakan dengan tekun sepenuh hati. (Malfuzat, vol. I, hal. 167-168).
* * *
Penyekutuan Tuhan bisa berbentuk banyak macam dan disebut sebagai syirik. Jelas terdapat syirik dalam agama Hindu, Kristen, Yahudi dan para penyembah berhala, dimana manusia, batu, benda mati lainnya atau sifat-sifat dan dewa-dewa fiktif disembah sebagai Tuhan. Meskipun sekarang ini zaman pencerahan dan pendidikan serta logika mulai menjauhinya, namun bentuk syirik ini masih banyak terdapat di dunia. Kebanyakan manusia menganggap ketololan seperti ini sebagai bagian dari agama nasional mereka, walaupun sebenarnya di dalam hati mereka mulai menolaknya. Hanya saja ada sejenis syirik lain yang menyebar secara tersembunyi seperti racun dan pada masa ini berkembang luas yaitu bentuk ketidakpercayaan dan menolak ketergantungan kepada Allah yang Maha Kuasa.
Kami tidak ada mengatakan, dan juga bukan bagian dari agama kami, bahwa yang namanya sarana harus dibuang sama sekali. Allah s.w.t. sendiri telah menganjurkan pemanfaatan sarana dan jika sarana tidak dimanfaatkan sepenuh kemampuannya maka hal itu dianggap sebagai mencederai citra fitrat manusia dan mengecilkan arti karunia Ilahi. Kalau sarana ditinggalkan sama sekali maka hal itu berarti semua sifat dan fitrat yang telah dikaruniakan kepada manusia akan jadi menganggur tidak berguna, dan hal ini sama saja dengan menganggap kinerja Tuhan sebagai suatu yang sia-sia tak berguna. Karena itulah kami tidak ada mengatakan, dan juga bukan bagian dari agama kami, bahwa yang namanya sarana harus dibuang sama sekali.
Pemanfaatan sarana sampai dengan batasnya yang pantas adalah suatu hal yang perlu. Sarana juga dibutuhkan untuk kehidupan di akhirat. Melaksana¬kan perintah Allah s.w.t., menjauhi dosa dan melakukan amal saleh semuanya dilakukan dengan tujuan agar kita nyaman hidup di dunia maupun di akhirat. Amal saleh dengan demikian merupakan substitusi daripada sarana. Tuhan tidak pernah melarang pemanfaatan sarana untuk memehuhi kebutuhan duniawi. Seorang pegawai negeri harus melaksanakan tugas-tugasnya, seorang petani harus menyibukkan dirinya dengan pengelolaan pertanian, seorang buruh harus melaksanakan kerjanya sehingga mereka semuanya bisa memenuhi kewajiban yang terhutang oleh mereka kepada keluarga, anak-anak dan diri mereka sendiri. Semua ini bisa dibenarkan sampai suatu limit yang pantas dan memang tidak dilarang, tetapi jika melampaui batas tersebut maka berarti seseorang telah meletakkan kepercayaannya kepada sarana dan hal itu menjadikan yang bersangkutan berlaku syirik yang akan menjauhkan dirinya dari tujuan hidup yang sebenarnya.
Sebagai contoh, jika ada orang yang mengatakan bahwa kalau bukan karena suatu faktor tertentu ia akan mati kelaparan, atau kalau bukan karena suatu kekayaan atau jabatan ia akan miskin, atau kalau bukan karena adanya seorang sahabat ia akan mengalami mala petaka, semuanya itu merupakan hal yang tidak disukai oleh Allah s.w.t. Dia tidak akan berkenan pada orang yang terlalu mengandalkan kekayaan, sahabat atau sarana lainnya dan orang itu akan melenceng menjauh dari Allah s.w.t.. Hal ini merupakan syirik dalam bentuknya yang amat berbahaya dan amat bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dimana Allah s.w.t. berfirman:
    
“Di langit ada rezeki bagi kamu dan juga apa yang dijanjikan kepada kamu”. (S.51 Adz-Dzariyat:23)
sebagaimana juga firman-Nya:
     
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia memadai baginya”. (S.65 Ath-Thalaq:4)
serta firman:
                    •           

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar, dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka”. (S.65 Ath-Thalaq:3-4).
Begitu pula dengan firman-Nya:
  
“Dia melindungi orang-orang saleh”. (S.7 Al-Araf:197).
Kitab Suci Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang menyatakan Allah s.w.t. adalah Penjaga dan pemelihara para orang saleh. Kalau kemudian manusia bergantung kepada sarana dan yakin kepadanya, berarti ia telah mengenakan beberapa sifat Tuhan kepada sarana dimaksud dan menjadikannya sebagai sembahan lain di samping Tuhan-nya.

Dalam hal ini ia telah condong kepada perbuatan syirik. Mereka yang condong atau mengabdi kepada pejabat-pejabat negara dan dari sana lalu memperoleh anugrah dan gelar, akan menghormati para pejabat itu sebagaimana ia menghormati Tuhan dan dengan cara demi¬kian sama saja dengan telah menyembah mereka. Hal demikian menafikan Ke-Esaan Tuhan dan melencengkan manusia dari tujuan haqiqinya serta melontarkannya ke luar jalur jauh sekali. Para Rasul Allah selalu mengajarkan agar jangan ada konflik di antara Ketauhidan dengan sarana material dimana masing-masing harus berada di posisinya yang benar, sedangkan akhir segalanya adalah Ke-Esaan. Para Rasul mengajarkan kepada umat manusia bahwa semua kemuliaan, keselesaan dan kepuasan datangnya dari Allah s.w.t. Jika ada sesuatu lainnya yang ditegakkan bertentangan dengan Dia maka akan timbul konflik dimana salah satu akan rusak. Ketauhidan Ilahi harus selalu dimenangkan. Sarana memang boleh digunakan tetapi tidak patut diagungkan.

Keimanan kepada Ketauhidan Ilahi akan melahirkan kecintaan kepada Allah yang Maha Perkasa ketika manusia menyadari bahwa semua kesialan dan keberuntungan ada di Tangan-Nya, bahwa hanya Dia-lah yang Maha Pengasih dan setiap partikel hanya datang daripada-Nya tanpa intervensi siapa pun. Ketika seorang manusia berhasil mencapai tingkatan suci ini maka ia akan diakui sebagai seorang yang beriman kepada Ketauhidan Ilahi. Salah satu persyaratan dari keimanan kepada Ketauhidan Ilahi adalah tidak akan menyembah batu, manusia lainnya atau benda apa pun, bahkan seharusnya merasa jijik atas tindakan demikian. Syarat kedua adalah tidak terlalu melebih¬-lebihkan pentingnya sarana material. Syarat ketiga, manusia bersangkutan harus menafikan ego dan tujuannya sendiri. Seringkali manusia merasa kemampuan sifat dan fisik dirinya amat hebat sehingga membayang¬kan bahwa ia telah berhasil mencapai suatu kemaslahatan dengan dayanya sendiri. Ia demikian mengandalkan kemampuan dirinya sendiri sehingga mensifatkan semua keberhasilan atas kemampuannya tersebut. Keimanan haqiqi pada Ketauhidan Ilahi akan bisa dicapai jika seseorang juga menafikan kemampuan dirinya sendiri. (Malfuzat, vol. III, hal. 79-82).
* * *
Doktrin agama Kristen menyatakan bahwa mereka yang tidak mengimani Trinitas dan tidak menerima penebusan Yesus, maka mereka ini akan masuk neraka untuk selama-lamanya. Sikap membatasi Tuhan yang Maha Tidak Terbatas dengan menyekutukan-Nya melalui tiga atau empat sekutu lalu menganggap masing-masing unsur sebagai suatu yang sempurna, tetapi tetap saja memerlukan bantuan satu sama lain, adalah perbuatan syirik. Menyata¬kan bahwa pada awalnya Tuhan adalah Firman18 dan bahwa Firman itu lalu turun ke dalam rahim Maryam dan dari sana memperoleh bentuk dari darahnya, untuk kemudian dilahirkan dengan cara yang sama sebagaimana manusia lainnya, mengalami semua penyakit semasa kanak-kanak dan setelah dewasa lalu ditangkap dan disalibkan, adalah perbuatan syirik yang menjijikkan karena telah mempertuhan seorang manusia. Tuhan tidak memerlukan turun ke rahim seorang wanita hanya untuk memperoleh kerangka tubuh manusia untuk kemudian ditangkap oleh para musuh-Nya. Fitrat manusia menolak anggapan bahwa Tuhan harus melalui penderitaan demikian mengingat Dia adalah Penguasa segala Keagungan dan tidak bisa menerima bahwa sumber semua kemuliaan itu harus mengalami pelecehan demikian rupa. Umat Kristiani sendiri mengakui bahwa perendahan harkat Tuhan seperti itu baru kali itulah terjadi dan sebelumnya Dia tidak pernah dihinakan. Sebelumnya tidak pernah terjadi bahwa Tuhan harus mendapat bentuk di dalam rahim seorang wanita sebagaimana halnya dengan sperma. Sejak pertama manusia mengenal nama Tuhan, tidak pernah terjadi bahwa Dia harus dilahirkan dari seorang wanita sebagaimana halnya anak manusia. Penganut agama Kristen mengakui semua hal tersebut di atas dan juga mengakui kalau tiga sekawan dalam posisi Ketuhanan tersebut pada awalnya tidak terpisah dalam tiga entitas. Lalu tiba-tiba sekitar 1896 tahun yang lalu dirasa perlu tercipta tiga wujud bagi ketiga anggota persekutuan tersebut. Format sang bapak adalah seperti Adam karena Tuhan menciptakan Adam menurut rancangan gambar-Nya (Kejadian 1:27), sedangkan sang putra dimunculkan dalam bentuk Yesus (Yohanes 1:1), adapun Rohulkudus mengambil bentuk seekor burung merpati (Matius 3:16). Dalam pandangan umat Kristiani, perwujudan ketiga tuhan itu memang berwujud secara abadi, memiliki pengejawantahan yang terpisah satu sama lainnya secara abadi, namun ketiganya secara gabungan disebut Tuhan yang satu. Bagaimana caranya memahami bahwa ketiga entitas itu adalah satu namun memiliki jasad samawi terpisah. Misalnya pun kita satukan pendeta Dr. Martyn Clarke, Pastor Imaduddin dan Pastor Thakar Dass menjadi satu kesatuan yang berfitrat tiga, maka dapat dipastikan bahwa misalnya pun ketiga orang itu diremuk menjadi satu dan sel-sel tubuh mereka dipercampurkan, tetap saja menjadikan satu wujud dari apa yang sebelumnya tiga adalah suatu hal yang mustahil.
Rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ketiga tuhan-tuhan umat Kristen ini adalah seperti tiga orang anggota dewan dan semua keputusan dilakukan secara musyawah atau voting, seolah-olah lembaga Ketuhanan merupakan bentuk pemerintahan republik dan Tuhan tidak bisa melaksanakan pemerintahan sendirian dan harus bergantung pada keputusan dewan. Singkat kata, dapat disimpulkan bahwa tuhan umat Kristen adalah tuhan majemuk itu. (Anjam Atham, Qadian, Ziaul Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 11, hal. 34-36, London, 1984).
* * *
Agama Kristen tidak mengenal Ketauhidan Ilahi. Umat Kristen telah berpaling dari Tuhan yang benar dan telah mencipta tuhan baru yang sebenarnya putra seorang wanita Israel. Apakah tuhan baru ini memiliki kadar sama dalam sifat kuasanya sebagaimana Allah yang Maha Agung? Sejarah hidupnya sendiri sayangnya menggambarkan hal yang sebaliknya. Kalau benar ia kuasa maka tak mungkin ia akan disiksa oleh umat Yahudi, tidak akan dipenjarakan oleh bangsa Roma dan tidak juga lalu disalibkan. Ketika umat Yahudi itu menantangnya untuk turun dari atas salib agar mereka bisa beriman kepadanya, mestinya ia langsung turun, namun ia tidak ada memperlihatkan kekuasaannya. Adapun mengenai mukjizat-mukjizat yang dilakukannya, nyatanya masih lebih sedikit dibanding Nabi-nabi lain. Sebagai contoh, kalau umat Kristiani mau membandingkan mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Elia sebagaimana dirinci dalam Kitab Injil yang antara lain mencakup menghidup¬kan kembali orang mati, dibanding dengan mukjizat yang dilakukan Yesus putra Maryam, maka mereka akan mengakui bahwa mukjizat Nabi Elia itu lebih akbar dan lebih banyak daripada mukjizat Yesus. Kitab Injil berulangkali menceritakan bagaimana Yesus mengusir ruh setan dari penderita epilepsi (ayan) dan hal ini dianggap sebagai mukjizat akbar. Hal itu menjadi bahan tertawaan para pakar terpelajar sekarang ini karena mereka mengetahui bahwa epilepsi itu adalah akibat dari adanya kelemahan dalam struktur otak manusia, serta tidak ada hubungannya dengan ruh setan.
Tidak kelahiran Yesus dan tidak juga dari antara mukjizat yang dilakukannya yang bisa dikemukakan sebagai bukti ketuhanannya. Allah s.w.t. mengungkap¬kan kelahiran Yohanes Pembaptis bersamaan dengan kelahiran Yesus sendiri dengan tujuan bahwa sebagaimana kelahiran luar biasa Yohanes tidak menjadikannya keluar dari kategori manusia biasa, maka kelahiran Yesus putra Maryam pun tidak menjadikannya sebagai Tuhan. Yesus tidak ada memiliki kekuasaan luar biasa. Beliau adalah seorang rendah hati, punya sifat berupa kelemahan manusiawi serta kurangnya pengetahuan. Injil mengemuka¬kan bahwa beliau tidak ada memiliki pengetahuan mengenai yang tersembunyi, beliau mendatangi pohon ara untuk memakan buahnya tanpa menyadari bahwa pohon itu sedang tidak berbuah. Beliau mengakui tidak mengetahui apa pun mengenai Hari Penghisaban, padahal kalau beliau itu tuhan mestinya tahu. Beliau tidak ada memiliki sifat-sifat Ilahi dan tidak ada sesuatu apa pun di diri beliau yang tidak terdapat pada diri orang lain. Umat Kristen pun mengakui bahwa beliau bisa mati, alangkah menyedih¬kannya bagi suatu agama jika tuhan mereka bisa saja mati. Meski dikatakan bahwa beliau dibangkitkan kembali setelah kematian, rasanya ahl itu tidak memberi¬kan keselesaan. Kita tidak bisa mengandalkan diri kepada sesuatu yang nyawanya setiap saat bisa lepas. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 378-382, London, 1984).
* * *
Apa gunanya sesembahan atau tuhan yang kemampuannya menurun seperti karakteristik orang yang sudah mulai uzur? Apa perlunya kita dengan tuhan yang tidak bisa mengampuni dosa-dosa hambanya sampai setelah ia didera, diludahi, dipenjarakan untuk terakhir disalibkan? Kami ini tidak bisa menerima sosok tuhan yang bisa dikalahkan oleh bangsa Yahudi yang rendah akhlak dimana mereka sendiri telah kehilangan kerajaan mereka. Kami hanya beriman kepada Allah yang Maha Benar yang telah mengangkat seorang yang miskin dan lemah dari Mekah sebagai Rasul-Nya dan memanifestasikan Kekuatan dan Keagungan-Nya pada masa yang sama kepada seluruh dunia. Ketika Shah Iran mengirim asykarnya untuk menangkap Hadzrat Rasulullah s.a.w., Allah yang Maha Kuasa memerintahkan kepada beliau untuk memberitahukan para asykar tersebut bahwa Tuhan beliau telah membunuh tuhan mereka.
Agar dicermati disini bahwa di satu sisi ada seseorang yang dipertuhan telah ditangkap dan dipenjarakan oleh bangsa Roma sedangkan doanya sepanjang malam kelihatannya tidak dikabulkan, sedangkan di sisi lain adalah satu sosok manusia yang mengaku hanya sebagai seorang Rasul tetapi Allah yang Maha Kuasa malah menghancurkan raja-raja yang menentang beliau.
Bagi mereka yang mencari kebenaran, cermatilah pribahasa yang menyatakan: “Berkawanlah dengan mereka yang bersifat agung, agar engkau pun terbawa menjadi agung.”. Apa gunanya bagi kita agama yang sudah mati, serta manfaat apa yang bisa didapat dari Kitab yang kadaluwarsa dan rahmat apa yang bisa dianugrahkan oleh sosok tuhan yang sudah mati? (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 353, London, 1984).
* * *
Apa yang umat Kristen coba tablighkan kepada kita adalah suatu kaidah yang bermutu rendah dan memalukan. Bagaimana nalar bisa menerima bahwa seorang makhluk yang lemah yang memiliki sifat-sifat manusia biasa, lalu disembah sebagai tuhan? Bisakah nalar menerimakan bahwa makhluk lainnya boleh mencambuki Pencipta mereka, bahwa para hamba Tuhan harus meludahi wajah Tuhan yang Maha Kuasa, menangkapnya dan menyalibkannya ke kayu salib sebagai sosok yang sama sekali tidak mempunyai kuasa apa pun? Bagaimana kita bisa menerima bahwa seseorang yang menyebut dirinya Tuhan tetapi terpaksa berdoa sepanjang malam memohon kelepasan, dan itu pun kelihatannya doanya tidak langsung dikabulkan? Bisakah batin kita menerimakan bahwa seorang tuhan juga perlu bermukim sembilan bulan di dalam rahim seorang wanita dan memperoleh kehidupan dari darah ibunya untuk kemudian lahir dengan tangisan melalui saluran peranakan wanita yang biasa? Bisakah seorang yang berakal menerima pandangan bahwa setelah suatu periode waktu yang demikian panjang, lalu Tuhan harus terpaksa mewujud dalam suatu tubuh, sebagian dari diri-Nya mengambil bentuk seorang manusia dan bagian lainnya berbentuk burung merpati, dimana ketiga wujud ini lalu menjadi belenggu diri-Nya sepanjang masa? (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 86-87, London, 1984).